CAHAYA CINTA DI KOTA SEOUL
Incheon Airport, Seoul
Semuanya berawal dari
mimpi. Alhamdulillah, akhirnya salah satu mimpiku untuk pergi ke luarnegri
tercapai. Ini merupakan pertama kalinya aku menginjakan kaki di Negara
subtropics. Aku sangat bersyukur bisa menjadi perwakilan International Young
Writer Exchange yang dilaksanakan di Negara gingseng ini. Selama 3 bulan
kedepan aku akan menetap disini, tentunya secara gratis dengan syarat yang
harus menjauhkan aku dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Sebagai
muslimah dan pendatang baru, aku siap dengan kenyataan bahwa aku akan menjadi
kaum minoritas di negeri ini. Semoga Allah selalu bersamaku.
Pemerintah Korea
Selatan sangat memperhatikan infrastuktur yang ada. Sepanjang perjalananku tadi
aku” terhipnotis” oleh keindahan yang kota Seoul tawarkan. Sebelum ini
berakhir, aku harus menjelajahi setiap sudut keindahan itu. Secara sadar,
daun-daun kuning kecolatan yang mulai berjatuhan karena angin sangat menyita
perhatianku. Korea sedang musim mengalami musim gugur saat ini. Indah sekali.
Aku ingin sekali negaraku tercinta Indonesia bisa merasakan juga 4 musim namun
itu hal yang tidak mungkin. Allah telah menakdirkan semuanya. 2 jam kemudian akhirnya
aku sampai di asramaku. 6 jam perjalanan udara dan 2 jam perjalanan darat itu
cukup membuatku lelah. Aku memutuskan untuk beristirahat dan besok siap untuk
menjalankan tugas sebagai peserta International Young Writer Echange.
--o0o--
Hari kedua di Seoul dan
hari pertama untuk beraktivitas aku sangat bersemangat. Aku berdo’a pada Allah
semoga ini menjadi awal yang baik. Tak lupa ku memulai semuanya dengan menyebut
nama-Nya. Bismillahirrahmannirrahim.
Tujuanku saat ini
adalah Seoul University. Disana aku akan belajar bahasa Korea setiap hari Senin
sampai Jum’at sedangkan setiap hari Sabtu adalah seminar antara peserta
International Young Writer Echange dan libur pada hari Minggu. Saat diperjalanan,
tiba-tiba ada seorang wanita yang bertanya. Pertanyaannya sangat mengejutkanku
sekaligus membuat hatiku teriris halus.
“ahh…terrorism?” tanyanya
sambil menatapku sinis.
“no, I hate terrorism
too”. Aku tersenyum padanya. Aku pun memberitahu padanya aku ini “siapa”.
Wanita itupun meminta maaf dan pergi.
Mungkin karena jilbab
yang kupakai ini, sehingga pertanyaan itu menerpaku. Hatiku marah, mengapa
islam begitu identik dengan teroris?. Padahal islam sendiri tidak menganjurkan
kekerasan sebagai jihad. Jihad yang sesungguhnya adalah bagaimana kita
membuktikan bahwa islam itu indah, damai, dan berkah bagi seluruhnya termasuk
kepada mereka yang bukan muslim. Aku berharap pertanyaan serupa tidak
“menamparku” lagi dan kepada muslim di seluruh dunia ini.
In Seoul University
Akupun memasuki kelas
yang dipenuhi oleh manusia dari berbagai latarbelakang. Ada sekitar 20 orang
semuanya berbaur termasuk diriku. Kali ini aku benar-benar dikejutkan oleh
sesuatu yang lain. Aku pikir, akulah satu-satunya perempuan yang memakai
jilbab, namun dugaan aku salah. Guru bahasa Korea kami Choi Eun Ji, dia
berjilbab! Itu membuatku bahagia. Kemudian dia mengabsen kami satu per satu.
Sampailah namaku disebut.
“Medina Azahara” sebut
guru itu dengan aksen Korea yang kuat.
“yes, I am” sahutku
Dia tersenyum padaku,
senyum yang dia berikan padaku berbeda dengan yang lainnya. Aku rasa itu senyum
persaudaraan. Akhirnya Allah mempertemukan aku dengan salah satu “saudara” ku.
--o0o--
The class is over. Aku
sangat penasaran dengan Mrs. Choi Eun Ji. Aku ingin lebih kenal dengannya. Aku
pun memberanikan diri untuk lebih dekat dengannya.
“sorry Mrs. Choi, are
you busy? I …emh..I just want to share with you, can you?”
“I am not busy…okay
Medina, with pleasure”
Kemudian kami pergi
menuju taman kota Seoul, dekat dengan sungai Han yang populer dan pemandangan
Namsan Tower indah. Daun-daun yang berguguran menambah pemandangan semakin
menawan. Sungguh, pemandangan yang langka terjadi di Indonesia.
“you know? Saya
terkejut saat melihat peserta dari pertukaran penulis ada yang memakai jilbab,
itu merupakan pemandangan yang langka di Negara minoritas muslim seperti Korea
ini, sekaligus bahagia karena aku bertemu dengan salah satu saudara seimanku”
Mrs. Choi tersenyum.
Aku membalas senyum
manisnya, “sama sepertimu, akupun terkejut saat melihat guru bahasa Korea ku
berjilbab!”
“pasti kau penasaran mengapa
aku memeluk islam?”
Aku hanya tersenyum,
dan sepertinya Mrs. Choi tahu kalau senyumku itu menandakan sebuah jawaban ya.
“suara adzan dari
mesjid Seoul yang mengetarkan hatiku” sambil menunjuk arah mesjid tersebut.
“saat itu aku sedang frustasi karena pacarku pergi untuk selamanya, sehingga
aku pun ingin menyusulnya dengan mencoba bunuh diri, aku memang sangat bodoh
saat itu. Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Lee Dong Hae, suamiku yang
juga seorang mualaf. Nama islamnya Dzulfikri Husaini. Allah telah mengirimnya
untuk menyelamatkan hidupku”.
Aku mengangguk
mengerti.
“Dong Hae banyak
mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya padaku, dan hatiku mantap untuk
memeluk islam, 1 bulan kemudian aku memutuskan untuk memakai jilbab”. Mrs. Choi
melanjutkan pengalamannya. “dan Alhamdulillah semua keluargaku menerima
keputusanku ini”
Aku hanya mengatakan
“Subhanallah”
Cahaya matahari semakin
meredup di ufuk barat. Kami memutuskan untuk shalat berjamaah di Mesjid Seoul.
Mesjid terbesar di Korea Selatan. Sebuah moment yang luar biasa bagiku.
1 month later
Tidak terasa sudah 1
bulan aku di negeri gingseng ini. Aku semakin akrab dengan Mrs. Choi. Hari ini
aku akan pergi ke Mokpo, sebuah kota kecil dengan aksen bahasa Korea yang khas.
Pergi ke rumah kedua Mrs. Choi. Di dalam subway, aku mendengar sebuah
percakapan yang sangat membuatku geram tapi aku berusaha untuk bersabar. Ingin
sekali rasanya memaki-maki mereka dan menegaskan bahwa islam tidak seburuk yang
mereka bicarakan. Saat turun aku melihat tiket mereka terjatuh dan sebagai
muslim yang wajib menebar kebaikan aku pun mengembalikan tiket itu.
“Sorry..is this your
ticket? I found your ticket on the floor”.
“oh my God, thank you”.
“You’re welcome. I am
Medina from Indonesia. I am Muslim” aku tersenyum dan pergi.
Aku melihat ada raut
wajah penyesalan di mereka. Aku hanya berusaha menjadi agen muslim yang baik di
Negara minoritas ini.
Sesampainya di Mokpo
aku disambut hangat oleh Mrs. Choi dan suaminya Mr. Lee. Aku pun menceritakan
apa yang terjadi di subway tadi.
“sebagian masyarakat
Korea memang sudah terkena efek islamofobia seperti Negara-negara barat, dan
sudah menjadi kewajiban kita untuk menghapus islamofobia tersebut”.
Aku tersenyum pertanda
setuju.
“ini Lee Dong Hae suami
aku” Mrs. Choi memperkenalkan. Mr. Lee tersenyum. “dan ini Medina Azahara murid
aku” Mrs. Choi memperkenalkan aku. Aku tersenyum.
“hari ini ada teman
kami yang akan berkunjung juga kesini. Dia ateis, dia sedang dalam proses
menemukan Tuhan yang sebenarnya”. Ucap Mrs. Choi penuh misteri.
Tidak lama kemudian
orang yang dimaksudkan Mrs. Choi datang. Bermata sipit, berkulit putih, hidung
mancung, tubuh tinggi dan tampan. Kalau di Indonesia orang seperti ini pasti
langsung terkenal jadi artis.
“why? Why do you look
me like that?” tanyaku ketika dia begitu memperhatikanku dari ujung kaki sampai
ujung kepala.
“you are girl in the
subway, aren’t you?” he said and I am confused. “In the subway, I see you when
you bring back the ticket to someone who ridicules Islam”.
“oh I see”. Aku
mengangguk.
“He is Kim Yesung, our
friend. Okay, let’s eat together”. Mrs. Choi said.
Setelah selesai makan,
kami saling bercakap-cakap tentang islam. Yesung banyak sekali mengajukan
pertanyaan tentang islam. Menurutnya, islam itu agama yang tidak realitis. Kami
mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang harus selalu
menggunakan logika agar benar-benar dapat dimengerti olehnya.
2 months later
1 bulan lagi aku akan
pergi dari Negara ini dan kembali ke Negara tercinta Indonesia. Selama 2 bulan
ini aku banyak sekali mendapatkan pelajaran. Mrs.Choi menjadi guru sekaligus
menjadi “saudara perempuan” ku selama di Seoul ini. Dia sangat banyak
membantuku. Aku sangat bersyukur pada Allah. Selama 1 bulan pula aku
dipertemukan dengan makhluk yang bernama Yesung. Aku yakin, semua pertemuan ini
sudah diatur oleh-Nya. Dan setiap rencana-Nya pasti sangatlah indah. Lebih
indah dari pemandangan kota Seoul di malam hari.
Hand phone ku berbunyi,
ada sms masuk. “now, I believe God”.
What? Yesung sudah
percaya pada Tuhan? Percaya pada Allah, satu-satu nya Tuhan yang wajib disembah
oleh seluruh jagad raya ini.
“but, I haven’t known
yet, the religion which I choose’. Sms lanjutan darinya.
Hem..aku menghela
napas. Mungkin hidayah Allah belum sampai kepadanya. Tapi aku sedikit lega
karena setidaknya dia sudah mempercayai Tuhan, mempercayai bahwa sejatinya
jagad raya dan alam semesta ini ada yang menciptakan. Allah yang Maha
Menciptakan.
--o0o--
Ini merupakan bulan
ketiga aku berada di Seoul, dalam hitungan minggu aku akan segera kembali ke kampung
halaman. Untuk menambah kenangan, Mrs. Choi mengajak aku mengunjungi sebuah
“kota islam” yang ada di Korea, kota Itaewon the city of Muslim in South Korea.
Sebagian masyarakat di kota ini merupakan muslim pendatang. Kali ini kami
ditemani oleh Yesung. Menurutku, Yesung punya keingintahuan yang besar terhadap
islam. Semoga saja dia segera menemukan “titik terang” yang sesungguhnya.
“Medina, kita sudah
sampai di kota Itaewon”. Kata Mrs. Choi.
Aku merasakan damai di
kota ini. Banyak kedai makanan halal dan ada mesjid.
“aku sekarang sudah
mengerti mengapa islam mengharamkan babi dan alcohol”. Kata Yesung mengagetkan
aku. Apakah dia sudah paham betul seluk beluk islam? Ah entahlah.
“really? kau tau
darimana?”. Tanya ku penasaran.
“yes, akhir-akhir ini
aku banyak membaca buku tentang islam”. Jawabnya.
Aku merasa bahagia
sepertinya Yesung mulai tertarik pada islam. Semoga saja Allah segera
memberikan hidayah-Nya pada Yesung. That’s my wish.
Setelah seharian kami
mengelilingi kota Itaewon, kami memutuskan untuk pulang. Hari yang berkesan
bagiku. Aku sangat berterima kasih pada Allah atas segala nikmat-Nya yang
sungguh luar biasa bagiku.
--o0o--
Minggu demi minggu
sudah berlalu, hingga pada akhirnya esok lusa aku akan benar-benar kembali ke
Indonesia, tanah airku. Dari sekian peristiwa yang aku alami selama di Seoul,
ada satu peristiwa yang benar-benar membuat ku menitikkan airmata. Menjadi
saksi atas ikrar suci nya antara Yesung dengan Allah. Tepat sekali, Yesung
sudah memeluk islam. Seminggu sebelum tugas ku berakhir disini, Yesung
mengucapkan dua kalimat syahadat di mesjid raya Seoul. Itu sangat luar biasa,
tidak butuh waktu lama bagi Yesung untuk mengakui bahwa islam lah agama yang
benar. Pada saat itu sungguh mengharukan. Allah telah mengabulkan harapan ku.
Bahwa Allah benar-benar memberikan petunjuk pada hamba-Nya yang senantiasa
mencari-Nya.
Besok aku akan bertemu
dengan Mrs. Choi dan suaminya Mr. Lee serta Yesung untuk mengucapkan salam
perpisahan dan terima kasih karena telah menjadi teman ku selama di Seoul
tentunya akan menjadi temanku juga ketika aku sudah kembali ke Indonesia. Haru
biru menyelimuti perasaanku.
“aku tidak akan
melupakan mu Mrs. Choi, terima kasih untuk semuanya. Kau sangat baik juga untuk
Mr. Lee kau sangat pintar dalam membantu ku”.
Aku memeluk Mrs. Choi
sebagai tanda perpisahan dan memberikan cendramata sebagai kenang-kenangan.
Kemudian mataku ku alihkan pada sosok lelaki yang wajahnya sangat berseri-seri.
Wajah yang menunjukan bahwa ia telah menemukan “titik terang” kehidupan yang
sesungguhnya.
“Yesung, aku senang
bertemu dengan mu. Semoga Allah mempertemukan kita kembali”. Aku tersenyum
padanya. Aku juga memberikan cendramata untuk Yesung sebagai kenang-kenangan.
“aku juga senang
bertemu dengan mu, terima kasih. Aku akan menyimpan ini baik-baik”.
--o0o--
Incheon Airport, Seoul.
Usai sudah tugasku di
Seoul, hari ini aku akan segera “terbang” ke Indonesia. Ada perasaan sedih dan
senang dalam hati. Sedih karena aku harus berpisah dengan saudar-saudar muslim
ku dan senang karena aku akan segera bertemu dengan keluargaku. Ini adalah hari
terakhir aku untuk merasakan dinginnya butiran salju. Sangat dingin.
6 months later
Enam bulan sudah aku
meninggalkan kota Seoul. Aku merindukan mereka. Apa kabar mereka?
Apa kabar Medina? Aku
harap kau baik-baik saja. Jujur saja saat kau tidak lagi berada di Seoul aku
sangat merasa kehilangan dan setiap harinya aku sangat merindukanmu. Apa kau
juga merindukanku? Aku merasa aku telah menemukan sosok yang tepat untuk
menjadi teman hidupku, sosok itu ada di dirimu. Benar sekali, aku menyukai sejak
pertama kali aku melihat mu di subway waktu itu. Kau sangat cantik dengan
jilbab merahmu. Kau sungguh berbeda. Aku juga telah menemukan cahaya-Nya dalam
dirimu. Aku percaya bahwa Allah telah mengirim cinta-Nya untuk aku melalui
dirimu. Semoga Allah selalu bersama kita. Medina, will you marry me?.
Aku sangat terkejut
saat membaca email dari Yesung. Bahagia menyelimuti diriku. Sangat bahagia. Aku
membalas emailnya dengan singkat.
Aku pun merindukanmu.
Yes, I will. I will be waiting for you to come to my hometown Indonesia. Semoga Allah meridhoi kita. Amin.
I am sure. Allah has a
beautiful plan for every woman and man. Trust Allah and pray and Allah will
light the way. Sungguh Allah yang Maha Kuasa Atas Segala-galanya.