Minggu, 17 Juli 2016

Serpihan Piring dan Gelas



Serpihan Piring dan Gelas

Kau datang, lalu aku membuka hati dan membiarkan kau masuk.
Tapi kemudian ternyata kau hanya numpang lewat saja, hanya menumpang untuk memecahkan piring dan gelas kaca.
Dan tentu saja aku yang harus membersihkan serpihan-serpihan pecahan itu.
Seharusnya kau tau, kau lah yang harus bertanggung jawab pada hal tersebut.
Pecahannya memang tak membuat hatiku berdarah tapi cukup meninggalkan bekas sayatan.
Kau bisa bayangkan jika kau mau,
Betapa tak rapihnya hatiku, hancur berantakan, berkeping-keping.
Kini….aku tengah menata hatiku kembali, kembali seperti sebelum kau masuk dengan piring dan gelas mu.
Jika kau mau peduli, alangkah sulitnya itu kulakukan.
Tapi, tentu saja aku tak ingin berlama-lama membereskannya.
Dan….aku rasa, aku sudah berhasil melakukannya karna Allah selalu berbaik hati kepada mereka yang meminta, termasuk urusan hati.
Saat ini, serpihan piring dan gelas mu sudah tak ada lagi sebab aku menyapunya tak bersisa.
Ruang hatiku kembali kosong.
Maka dari itu, ku tutup pintu hatiku rapat-rapat untuk dirimu karena….
Karena, aku tak ingin kau memecahkannya lagi untuk yang kedua kali.

Bogor, 18 Juni 2016 pukul 10.35 p.m
DianMuller

Dalam Hujan




Dalam Hujan

Ku berharap dalam hujan,
Embun pagi esok tak kan pudar sebelum pagi berlalu.
Bulir-bulir tetesan pada kelopak bunga tak kan hilang sebelum siang berlalu.
Dan basahnya pada daun tak kan kering sebelum malam berlalu.

Dalam hujan,
Selalu terdapat kenangan.
Hujan banyak menciptakan kejutan.
Entah itu membahagiakan atau menyesakan.
Tapi bagiku, hujan selalu indah. Percikan airnya dari langit amatlah mendamaikan. Suara gemerciknya, sungguhlah membuat aku ingin menari di dalamnya. Juga rinai rintiknya sangatlah menyejukan.

Bersama dia, ku berharap dalam hujan,
Jika memang dia adalah embun paginya, semoga esok hari ia tak kan pudar.
Jika memang dia adalah bulir tetesan pada kelopak bunga, semoga ia tak kan hilang.
Dan jika memang dia adalah air pada daun basah, semoga sungguh ia tak kan kering.

Ku berharap dalam hujan,
Bila sang Pencipta hujan izinkan, aku butuh….
Aku butuh dia menjadi hujanku dalam hujan-Mu.

Bogor, 17 Juli 2016 pukul 12.35 a.m
DianMuller

Sabtu, 23 Januari 2016

islamic fun fiction


CAHAYA CINTA DI KOTA SEOUL


Incheon Airport, Seoul
Semuanya berawal dari mimpi. Alhamdulillah, akhirnya salah satu mimpiku untuk pergi ke luarnegri tercapai. Ini merupakan pertama kalinya aku menginjakan kaki di Negara subtropics. Aku sangat bersyukur bisa menjadi perwakilan International Young Writer Exchange yang dilaksanakan di Negara gingseng ini. Selama 3 bulan kedepan aku akan menetap disini, tentunya secara gratis dengan syarat yang harus menjauhkan aku dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Sebagai muslimah dan pendatang baru, aku siap dengan kenyataan bahwa aku akan menjadi kaum minoritas di negeri ini. Semoga Allah selalu bersamaku.
Pemerintah Korea Selatan sangat memperhatikan infrastuktur yang ada. Sepanjang perjalananku tadi aku” terhipnotis” oleh keindahan yang kota Seoul tawarkan. Sebelum ini berakhir, aku harus menjelajahi setiap sudut keindahan itu. Secara sadar, daun-daun kuning kecolatan yang mulai berjatuhan karena angin sangat menyita perhatianku. Korea sedang musim mengalami musim gugur saat ini. Indah sekali. Aku ingin sekali negaraku tercinta Indonesia bisa merasakan juga 4 musim namun itu hal yang tidak mungkin. Allah telah menakdirkan semuanya. 2 jam kemudian akhirnya aku sampai di asramaku. 6 jam perjalanan udara dan 2 jam perjalanan darat itu cukup membuatku lelah. Aku memutuskan untuk beristirahat dan besok siap untuk menjalankan tugas sebagai peserta International Young Writer Echange.
--o0o--
Hari kedua di Seoul dan hari pertama untuk beraktivitas aku sangat bersemangat. Aku berdo’a pada Allah semoga ini menjadi awal yang baik. Tak lupa ku memulai semuanya dengan menyebut nama-Nya. Bismillahirrahmannirrahim.
Tujuanku saat ini adalah Seoul University. Disana aku akan belajar bahasa Korea setiap hari Senin sampai Jum’at sedangkan setiap hari Sabtu adalah seminar antara peserta International Young Writer Echange dan libur pada hari Minggu. Saat diperjalanan, tiba-tiba ada seorang wanita yang bertanya. Pertanyaannya sangat mengejutkanku sekaligus membuat hatiku teriris halus.
“ahh…terrorism?” tanyanya sambil menatapku sinis.
“no, I hate terrorism too”. Aku tersenyum padanya. Aku pun memberitahu padanya aku ini “siapa”. Wanita itupun meminta maaf dan pergi.
Mungkin karena jilbab yang kupakai ini, sehingga pertanyaan itu menerpaku. Hatiku marah, mengapa islam begitu identik dengan teroris?. Padahal islam sendiri tidak menganjurkan kekerasan sebagai jihad. Jihad yang sesungguhnya adalah bagaimana kita membuktikan bahwa islam itu indah, damai, dan berkah bagi seluruhnya termasuk kepada mereka yang bukan muslim. Aku berharap pertanyaan serupa tidak “menamparku” lagi dan kepada muslim di seluruh dunia ini.
In Seoul University
Akupun memasuki kelas yang dipenuhi oleh manusia dari berbagai latarbelakang. Ada sekitar 20 orang semuanya berbaur termasuk diriku. Kali ini aku benar-benar dikejutkan oleh sesuatu yang lain. Aku pikir, akulah satu-satunya perempuan yang memakai jilbab, namun dugaan aku salah. Guru bahasa Korea kami Choi Eun Ji, dia berjilbab! Itu membuatku bahagia. Kemudian dia mengabsen kami satu per satu. Sampailah namaku disebut.
“Medina Azahara” sebut guru itu dengan aksen Korea yang kuat.
“yes, I am” sahutku
Dia tersenyum padaku, senyum yang dia berikan padaku berbeda dengan yang lainnya. Aku rasa itu senyum persaudaraan. Akhirnya Allah mempertemukan aku dengan salah satu “saudara” ku.
--o0o--
The class is over. Aku sangat penasaran dengan Mrs. Choi Eun Ji. Aku ingin lebih kenal dengannya. Aku pun memberanikan diri untuk lebih dekat dengannya.
“sorry Mrs. Choi, are you busy? I …emh..I just want to share with you, can you?”
“I am not busy…okay Medina, with pleasure”
Kemudian kami pergi menuju taman kota Seoul, dekat dengan sungai Han yang populer dan pemandangan Namsan Tower indah. Daun-daun yang berguguran menambah pemandangan semakin menawan. Sungguh, pemandangan yang langka terjadi di Indonesia.
“you know? Saya terkejut saat melihat peserta dari pertukaran penulis ada yang memakai jilbab, itu merupakan pemandangan yang langka di Negara minoritas muslim seperti Korea ini, sekaligus bahagia karena aku bertemu dengan salah satu saudara seimanku” Mrs. Choi tersenyum.
Aku membalas senyum manisnya, “sama sepertimu, akupun terkejut saat melihat guru bahasa Korea ku berjilbab!”
“pasti kau penasaran mengapa aku memeluk islam?”
Aku hanya tersenyum, dan sepertinya Mrs. Choi tahu kalau senyumku itu menandakan sebuah jawaban ya.
“suara adzan dari mesjid Seoul yang mengetarkan hatiku” sambil menunjuk arah mesjid tersebut. “saat itu aku sedang frustasi karena pacarku pergi untuk selamanya, sehingga aku pun ingin menyusulnya dengan mencoba bunuh diri, aku memang sangat bodoh saat itu. Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Lee Dong Hae, suamiku yang juga seorang mualaf. Nama islamnya Dzulfikri Husaini. Allah telah mengirimnya untuk menyelamatkan hidupku”.
Aku mengangguk mengerti.
“Dong Hae banyak mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya padaku, dan hatiku mantap untuk memeluk islam, 1 bulan kemudian aku memutuskan untuk memakai jilbab”. Mrs. Choi melanjutkan pengalamannya. “dan Alhamdulillah semua keluargaku menerima keputusanku ini”
Aku hanya mengatakan “Subhanallah”
Cahaya matahari semakin meredup di ufuk barat. Kami memutuskan untuk shalat berjamaah di Mesjid Seoul. Mesjid terbesar di Korea Selatan. Sebuah moment yang luar biasa bagiku.
1 month later
Tidak terasa sudah 1 bulan aku di negeri gingseng ini. Aku semakin akrab dengan Mrs. Choi. Hari ini aku akan pergi ke Mokpo, sebuah kota kecil dengan aksen bahasa Korea yang khas. Pergi ke rumah kedua Mrs. Choi. Di dalam subway, aku mendengar sebuah percakapan yang sangat membuatku geram tapi aku berusaha untuk bersabar. Ingin sekali rasanya memaki-maki mereka dan menegaskan bahwa islam tidak seburuk yang mereka bicarakan. Saat turun aku melihat tiket mereka terjatuh dan sebagai muslim yang wajib menebar kebaikan aku pun mengembalikan tiket itu.
“Sorry..is this your ticket? I found your ticket on the floor”.
“oh my God, thank you”.
“You’re welcome. I am Medina from Indonesia. I am Muslim” aku tersenyum dan pergi.
Aku melihat ada raut wajah penyesalan di mereka. Aku hanya berusaha menjadi agen muslim yang baik di Negara minoritas ini.
Sesampainya di Mokpo aku disambut hangat oleh Mrs. Choi dan suaminya Mr. Lee. Aku pun menceritakan apa yang terjadi di subway tadi.
“sebagian masyarakat Korea memang sudah terkena efek islamofobia seperti Negara-negara barat, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menghapus islamofobia tersebut”.
Aku tersenyum pertanda setuju.
“ini Lee Dong Hae suami aku” Mrs. Choi memperkenalkan. Mr. Lee tersenyum. “dan ini Medina Azahara murid aku” Mrs. Choi memperkenalkan aku. Aku tersenyum.
“hari ini ada teman kami yang akan berkunjung juga kesini. Dia ateis, dia sedang dalam proses menemukan Tuhan yang sebenarnya”. Ucap Mrs. Choi penuh misteri.
Tidak lama kemudian orang yang dimaksudkan Mrs. Choi datang. Bermata sipit, berkulit putih, hidung mancung, tubuh tinggi dan tampan. Kalau di Indonesia orang seperti ini pasti langsung  terkenal jadi artis.
“why? Why do you look me like that?” tanyaku ketika dia begitu memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“you are girl in the subway, aren’t you?” he said and I am confused. “In the subway, I see you when you bring back the ticket to someone who ridicules Islam”.
“oh I see”. Aku mengangguk.
“He is Kim Yesung, our friend. Okay, let’s eat together”. Mrs. Choi said.
Setelah selesai makan, kami saling bercakap-cakap tentang islam. Yesung banyak sekali mengajukan pertanyaan tentang islam. Menurutnya, islam itu agama yang tidak realitis. Kami mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang harus selalu menggunakan logika agar benar-benar dapat dimengerti olehnya.
2 months later
1 bulan lagi aku akan pergi dari Negara ini dan kembali ke Negara tercinta Indonesia. Selama 2 bulan ini aku banyak sekali mendapatkan pelajaran. Mrs.Choi menjadi guru sekaligus menjadi “saudara perempuan” ku selama di Seoul ini. Dia sangat banyak membantuku. Aku sangat bersyukur pada Allah. Selama 1 bulan pula aku dipertemukan dengan makhluk yang bernama Yesung. Aku yakin, semua pertemuan ini sudah diatur oleh-Nya. Dan setiap rencana-Nya pasti sangatlah indah. Lebih indah dari pemandangan kota Seoul di malam hari.
Hand phone ku berbunyi, ada sms masuk. “now, I believe God”.
What? Yesung sudah percaya pada Tuhan? Percaya pada Allah, satu-satu nya Tuhan yang wajib disembah oleh seluruh jagad raya ini.
“but, I haven’t known yet, the religion which I choose’. Sms lanjutan darinya.
Hem..aku menghela napas. Mungkin hidayah Allah belum sampai kepadanya. Tapi aku sedikit lega karena setidaknya dia sudah mempercayai Tuhan, mempercayai bahwa sejatinya jagad raya dan alam semesta ini ada yang menciptakan. Allah yang Maha Menciptakan.
--o0o--
Ini merupakan bulan ketiga aku berada di Seoul, dalam hitungan minggu aku akan segera kembali ke kampung halaman. Untuk menambah kenangan, Mrs. Choi mengajak aku mengunjungi sebuah “kota islam” yang ada di Korea, kota Itaewon the city of Muslim in South Korea. Sebagian masyarakat di kota ini merupakan muslim pendatang. Kali ini kami ditemani oleh Yesung. Menurutku, Yesung punya keingintahuan yang besar terhadap islam. Semoga saja dia segera menemukan “titik terang” yang sesungguhnya.
“Medina, kita sudah sampai di kota Itaewon”. Kata Mrs. Choi.
Aku merasakan damai di kota ini. Banyak kedai makanan halal dan ada mesjid.
“aku sekarang sudah mengerti mengapa islam mengharamkan babi dan alcohol”. Kata Yesung mengagetkan aku. Apakah dia sudah paham betul seluk beluk islam? Ah entahlah.
“really? kau tau darimana?”. Tanya ku penasaran.
“yes, akhir-akhir ini aku banyak membaca buku tentang islam”. Jawabnya.
Aku merasa bahagia sepertinya Yesung mulai tertarik pada islam. Semoga saja Allah segera memberikan hidayah-Nya pada Yesung. That’s my wish.
Setelah seharian kami mengelilingi kota Itaewon, kami memutuskan untuk pulang. Hari yang berkesan bagiku. Aku sangat berterima kasih pada Allah atas segala nikmat-Nya yang sungguh luar biasa bagiku.
--o0o--
Minggu demi minggu sudah berlalu, hingga pada akhirnya esok lusa aku akan benar-benar kembali ke Indonesia, tanah airku. Dari sekian peristiwa yang aku alami selama di Seoul, ada satu peristiwa yang benar-benar membuat ku menitikkan airmata. Menjadi saksi atas ikrar suci nya antara Yesung dengan Allah. Tepat sekali, Yesung sudah memeluk islam. Seminggu sebelum tugas ku berakhir disini, Yesung mengucapkan dua kalimat syahadat di mesjid raya Seoul. Itu sangat luar biasa, tidak butuh waktu lama bagi Yesung untuk mengakui bahwa islam lah agama yang benar. Pada saat itu sungguh mengharukan. Allah telah mengabulkan harapan ku. Bahwa Allah benar-benar memberikan petunjuk pada hamba-Nya yang senantiasa mencari-Nya.
Besok aku akan bertemu dengan Mrs. Choi dan suaminya Mr. Lee serta Yesung untuk mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih karena telah menjadi teman ku selama di Seoul tentunya akan menjadi temanku juga ketika aku sudah kembali ke Indonesia. Haru biru menyelimuti perasaanku.
“aku tidak akan melupakan mu Mrs. Choi, terima kasih untuk semuanya. Kau sangat baik juga untuk Mr. Lee kau sangat pintar dalam membantu ku”.
Aku memeluk Mrs. Choi sebagai tanda perpisahan dan memberikan cendramata sebagai kenang-kenangan. Kemudian mataku ku alihkan pada sosok lelaki yang wajahnya sangat berseri-seri. Wajah yang menunjukan bahwa ia telah menemukan “titik terang” kehidupan yang sesungguhnya.
“Yesung, aku senang bertemu dengan mu. Semoga Allah mempertemukan kita kembali”. Aku tersenyum padanya. Aku juga memberikan cendramata untuk Yesung sebagai kenang-kenangan.
“aku juga senang bertemu dengan mu, terima kasih. Aku akan menyimpan ini baik-baik”.
--o0o--
Incheon Airport, Seoul.
Usai sudah tugasku di Seoul, hari ini aku akan segera “terbang” ke Indonesia. Ada perasaan sedih dan senang dalam hati. Sedih karena aku harus berpisah dengan saudar-saudar muslim ku dan senang karena aku akan segera bertemu dengan keluargaku. Ini adalah hari terakhir aku untuk merasakan dinginnya butiran salju. Sangat dingin.
6 months later
Enam bulan sudah aku meninggalkan kota Seoul. Aku merindukan mereka. Apa kabar mereka?
Apa kabar Medina? Aku harap kau baik-baik saja. Jujur saja saat kau tidak lagi berada di Seoul aku sangat merasa kehilangan dan setiap harinya aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku? Aku merasa aku telah menemukan sosok yang tepat untuk menjadi teman hidupku, sosok itu ada di dirimu. Benar sekali, aku menyukai sejak pertama kali aku melihat mu di subway waktu itu. Kau sangat cantik dengan jilbab merahmu. Kau sungguh berbeda. Aku juga telah menemukan cahaya-Nya dalam dirimu. Aku percaya bahwa Allah telah mengirim cinta-Nya untuk aku melalui dirimu. Semoga Allah selalu bersama kita. Medina, will you marry me?.
Aku sangat terkejut saat membaca email dari Yesung. Bahagia menyelimuti diriku. Sangat bahagia. Aku membalas emailnya dengan singkat.
Aku pun merindukanmu. Yes, I will. I will be waiting for you to come to my hometown Indonesia.  Semoga Allah meridhoi kita. Amin.
I am sure. Allah has a beautiful plan for every woman and man. Trust Allah and pray and Allah will light the way. Sungguh Allah yang Maha Kuasa Atas Segala-galanya.

konsep novel



Concept novel by: Dian Muller
Ketika Cinta Datang Terlambat
“Kau hadir dan hatiku tercuri kembali”.
 – Hedi pada Diana-

Part  1: dongeng cinta kecilku telah dihidupkan oleh dongeng cinta perempuan lain.
Part 2: kutemukan nyata bahwa bersenda gurau denganmu adalah bahagiaku.
Part 3: cinta yang terlalu lama layu, kini mekar bersemi  karena hatimu menyiramnya.
Part 4: telah kutemukan satu sayapku, bersama sayapmu aku bisa terbang.
Part 5: bersamamu, tak hanya ingin terbang menuju kursi suci, namun juga terbang menuju surga-Nya.
Part 6: diujung jalan terlihat kerapuhan cinta dan kelemahan kasih, namun malaikat kecil menguatkanku.
Part 7: tatapanmu membasuh luka ku disaat sayatan menggoreskan hati.
Part 8: kala kegalauan menyentuh tak ada yang bisa ku lakukan selain bermesraan dengan-Mu.
Part 9: cintaku terhalang kabut sebab keinginan hidup bersamamu hanyalah mimpi. Sebuah ilusi yang tak nampak.
Part 10: masih bisakah aku hidup ditengah cinta yang kian memudar.
Part 11: sekalipun belati menghujam ragaku, mereka takkan mampu mewakili perihnya hati.
Part 12: hatimu masih dalam genggaman dan tak bisa ku kembalikan.
Part 13: wajahmu masih bisa kulihat meski ku menutup mata juga bisik cintamu yang masih ku dengar meski samar.
Part 14: tak ku hiraukan duri yang menancap, sebab tulipmu mengisyaratkan kekuatan cinta.
Part 15: cintamu menjadi semu dan kasihmu yang berlabuh entah dimana.
Part 16: kau masih saja bersembunyi dalam hati, bayangmu masih saja selalu mengikuti, cintamu masih bisa kurasakan, itu karena namamu sudah sangat terpahat.
Part 17: rindu, satu kata yang setiap hari aku lantunkan untukmu. Apa rindumu juga tetap untukku?
Part 18: kau percaya pada takdir Tuhan? Jika memang kita tak berjodoh di dunia, semoga Ia merestui kita di akhirat.
Part 19: walau hanya sekejap asalkan denganmu, aku bahagia.
Part 20: bila aku harus kembali. Pada-Mu lah sebaik-baik tempat kembali.