Kau datang, lalu aku membuka hati dan membiarkan kau masuk.
Tapi kemudian ternyata kau hanya numpang lewat saja, hanya
menumpang untuk memecahkan piring dan gelas kaca.
Dan tentu saja aku yang harus membersihkan serpihan-serpihan
pecahan itu.
Seharusnya kau tau, kau lah yang harus bertanggung jawab
pada hal tersebut.
Pecahannya memang tak membuat hatiku berdarah tapi cukup
meninggalkan bekas sayatan.
Kau bisa bayangkan jika kau mau,
Betapa tak rapihnya hatiku, hancur berantakan, berkeping-keping.
Kini….aku tengah menata hatiku kembali, kembali seperti
sebelum kau masuk dengan piring dan gelas mu.
Jika kau mau peduli, alangkah sulitnya itu kulakukan.
Tapi, tentu saja aku tak ingin berlama-lama membereskannya.
Dan….aku rasa, aku sudah berhasil melakukannya karna Allah
selalu berbaik hati kepada mereka yang meminta, termasuk urusan hati.
Saat ini, serpihan piring dan gelas mu sudah tak ada lagi
sebab aku menyapunya tak bersisa.
Ruang hatiku kembali kosong.
Maka dari itu, ku tutup pintu hatiku rapat-rapat untuk
dirimu karena….
Karena, aku tak ingin kau memecahkannya lagi untuk yang
kedua kali.
Bogor, 18 Juni 2016 pukul 10.35 p.m
DianMuller

Tidak ada komentar:
Posting Komentar