Minggu, 17 Juli 2016

Serpihan Piring dan Gelas



Serpihan Piring dan Gelas

Kau datang, lalu aku membuka hati dan membiarkan kau masuk.
Tapi kemudian ternyata kau hanya numpang lewat saja, hanya menumpang untuk memecahkan piring dan gelas kaca.
Dan tentu saja aku yang harus membersihkan serpihan-serpihan pecahan itu.
Seharusnya kau tau, kau lah yang harus bertanggung jawab pada hal tersebut.
Pecahannya memang tak membuat hatiku berdarah tapi cukup meninggalkan bekas sayatan.
Kau bisa bayangkan jika kau mau,
Betapa tak rapihnya hatiku, hancur berantakan, berkeping-keping.
Kini….aku tengah menata hatiku kembali, kembali seperti sebelum kau masuk dengan piring dan gelas mu.
Jika kau mau peduli, alangkah sulitnya itu kulakukan.
Tapi, tentu saja aku tak ingin berlama-lama membereskannya.
Dan….aku rasa, aku sudah berhasil melakukannya karna Allah selalu berbaik hati kepada mereka yang meminta, termasuk urusan hati.
Saat ini, serpihan piring dan gelas mu sudah tak ada lagi sebab aku menyapunya tak bersisa.
Ruang hatiku kembali kosong.
Maka dari itu, ku tutup pintu hatiku rapat-rapat untuk dirimu karena….
Karena, aku tak ingin kau memecahkannya lagi untuk yang kedua kali.

Bogor, 18 Juni 2016 pukul 10.35 p.m
DianMuller

Tidak ada komentar:

Posting Komentar